Bergabung sebagai anggota dan dapatkan diskon sampai 50%!


Klik di sini untuk mendaftar

X

Tunggu Dulu

Kami ingin meberikan diskon 15%

Jadilah member website kami dan nikmati diskon ini setiap anda reservasi Dengan mendaftarkan email saya setuju untuk menerima informasi promosi dari Swiss-Belhotel International
Pesan sekarang

Make a booking

ATUR RESERVASI Pesan sekarang
x
Wisata

Wisata

Palangkaraya merupakan ibukota propinsi Kalimantan Tengah, terletak antara sungai Kayanan dan Sabangau dengan total populasi 170.761. Tjilik Riwut merupakan Bandar Udara.
 
Propinsi Kalimantan Tengah berdiri pada 23 Mei 1957. Pembangunan konstruksi kota Palangkaraya sebagai ibukota propinsi yang baru di ajukan oleh Presiden Soekarno. Pada awalnya, Palangkaraya rencananya akan dipersiapkan sebagai ibukota Negara Indonesia untuk menggantikan Jakarta. Untuk mendukung ide ini, banyak gedung yang dibangun untuk merefleksikan kebesaran Indonesia. Contohnya, Bundaran Besar di tengah kota terdiri dari 8 persimpangan yang menandakan 8 kepulauan besar di Indonesia Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara dan Papua. Hal inilah yang membuat Palangkaraya menjadi salah satu kota dengan perencanaan konstruksi terbaik di Indonesia.
 
Palangkaraya terkenal akan kuliner lokal yaitu Patin Bakar, Nasi Kuning dan Sop Rotan. Beberapa sajian kuliner yang terkenal dan popular di sini berasal dari Kalimantan Selatan. Soto Banjar dan Ketupat Kandangan adalah merupakan kuliner yang terkenal berasal dari Kalimantan Selatan.
 
Terdapat 2 pasar tradisional terbesar di Palangkaraya yaitu ‘Pasar Besar’ dan Pasar Kahayan yang menjual berbagai barang-barang kebutuhan pangan masyarakat.
 
Selain itu juga terdapat beberapa swalayan mini. Kota yang sedang berkembang ini juga memiliki sebuah pusat perbelanjaan yaitu Mal Palangkaraya or Palma, terletak di tengah kota tepatnya di Bundaran Besar.
 
Penduduk Palangkaraya kebanyakan menggunakan bahasa Indonesia dengan berbagai logat daerah setempat seperti:  Dayak Ngaju, Dayak Mayan dan lain-lain. Penggunaan Bahasa Banjar lebih banyak ditemukan daripada logat Dayak lokal.